[Movie Review] 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Standard
5256852_20140601095445

Cover film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Credit: here

• Judul: 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita
• Sutradara: Robby Ertanto
• Produser: Intan Kieflie
• Pemeran:
– Marcella Zalianty (sbg dr. Rohana)
– Olga Lydia (sbg Lili)
– Happy Salma (sbg Yanti)
– Jajang C. Noer (sbg dr. Kartini)
– Patty Sandya (sbg Ningsih)
– Novi Sandra Sari (sbg Dian)
– Tamara Tyasmara (sbg Rara)
– Intan Kieflie (sbg Ratna)
– Tizza Radia (sbg Lastri)
– Henky Solaiman (sbg dr. Anton)
– Bombom Gumbira (sbg Darmawan)
– Rangga Djoned (sbg Bambang)
– Tegar Satria (sbg Randy)
– Albert Halim (sbg Acin)
• Tanggal rilis:
– Oktober 2010 (Indonesia)
– 20 Agustus 2010 (Australia)
• Durasi: 94 menit

BLURB

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita adalah film drama Indonesia dengan Produser Intan Kieflie melalui rumah produksi Anak Negeri Films indonesia yang dirilis pada 2010 dengan disutradarai oleh Robby Ertanto yang dibintangi oleh Marcella Zalianty dan Olga Lydia.

Film ini menceritakan kehidupan 7 orang wanita dengan berbagai latar belakang, masalah kehidupan dan percintaannya. Mulai dari hamil di luar nikah, korban selingkuh, ditipu pasangan, pekerjaan sebagai pelacur hingga menderita kelainan seksual.

Kartini (Jajang C. Noer) adalah dokter kandungan berusia 45 tahun. Masa lalunya yang kelam membuat ia terjebak di tengah-tengah masalah kehidupan dan percintaan 6 orang pasien wanitanya yang juga kelam dan tidak bahagia. Namun kebahagiaan hidup harus diperjuangkan. Walau tidak semua wanita mampu memperjuangkannya dan kembali menjadi korban.

(disadur dari laman Wikipedia)

REVIEW

Ada seorang dokter kandungan senior di RS Fatmawati, yakni dr. Kartini. Ia adalah dokter yang masih melajang hingga di usianya yang sudah mencapai 45 tahun. Ia bukan hanya dokter handal, tetapi juga pendengar yang baik bagi seluruh pasiennya. Bukan hanya peduli terhadap kesehatan pasien beserta kandungannya, ia juga sosok yang sangat akrab dengan pasien-pasiennya itu.

Ada 6 orang pasien yang menjadi sorotan utama di film ini yaitu Lili, Yanti, Lastri, Ratna, Rara, dan Ningsih.

Lili adalah seorang istri yang sedang hamil besar tetapi sering disiksa oleh suaminya sendiri hingga tubuhnya luka dan lebam. Ia sering berdalih lebam itu karena jatuh atau suaminya yang tidak sengaja melakukannya. Lili sudah terlanjur sangat mencintai suaminya hingga ia tidak menganggap itu suatu kekerasan.

Yanti sebagai seorang pelacur yang sedang check-up dengan dr. Kartini. Yanti setia ditemani oleh Bambang sebagai anjelo-nya. Apa itu anjelo? Mending ditonton aja deh biar tahu artinya. XD

Lastri adalah seorang istri yang hidup bahagia dan harmonis dengan suaminya. Beruntung sekali ia punya suami yang sangat mencintai dan mendukungnya. Lastri memiliki tubuh yang gemuk, itu menyulitkan untuk bisa hamil.

Ratna merupakan seorang buruh pabrik dengan hidup pas-pasan. Ia ikut bekerja untuk menutupi penghasilan suaminya dan membiayai sekolah adiknya. Ratna itu wanita yang sangat tegar menjalani kehidupannya. Kehamilan pertamanya ini adalah buah dari penantiannya selama 5 tahun sejak menikah dengan Marwan. Kandungannya sudah mencapai 9 bulan tapi dia belum juga cuti. Padahal dr. Kartini sudah menyarankan untuk istirahat.

Rara jadi pasien baru dr. Kartini. Ia baru duduk di kelas 2 SMP. Ia hamil lantaran sudah pernah melakukan hubungan intim dengan Acin, pacarnya yang sekaligus adik dari Lili. Rara adalah adik kandung Ratna.

Ningsih adalah seorang wanita karir yang sangat ambisius. Kehamilannya masih kecil, tetapi ia sangat ingin punya anak laki-laki. Jika anaknya bukan laki-laki, dia ingin menggugurkannya saja. Ningsih ingin punya anak laki-laki sebagai penerus dan akan dia didik supaya tidak ‘lembek’ seperti suaminya.

Di rumah sakit itu kedatangan dokter kandungan baru yang masih muda, yakni dr. Rohana. Ia adalah wanita yang punya rasa keingintahuan yang besar, keyakinannya pada pekerjaannya pun besar namun sering dinilai gegabah. Seperti saat ia berani meng-handle suatu persalinan secara dadakan demi memenuhi keinginan ayah si pasien. Namun, Rohana tentu dibimbing oleh dr. Anton. Anton merupakan salah satu dokter senior seperti Kartini. Tanpa Kartini tahu, Anton selalu menaruh perhatian lebih padanya.

7 wanita yang melingkupi 6 pasien dan dokter Kartini. 7 masalah yang melibatkan 7 hati dari 7 wanita. Apa yang sebenarnya coba disampaikan oleh film ini?

LET’S PEEL IT…

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa saya hanya bisa memberi komentar mengenai film ini hanya terkait tentang jalan cerita, cara penyampaian, dan kemampuan akting aktor atau aktrisnya saja. Saya tidak akan menanggapi sinematografi dan sebagainya karena saya bukan orang yang paham dibidang itu. Jadi, harap dimaklumi. 🙂

Saya suka dengan konsep ceritanya yang berpusat pada dr. Kartini. Ia sungguh mewakili ketegaran perempuan seperti namanya, Kartini. Narasi dari suaranya yang memandu jalannya film dengan kata-kata yang sungguh menyentuh pun jadi nilai tambah. Tapi, ada kejanggalan yang saya rasakan yaitu saat Rara datang ke rumah sakit untuk cek kehamilan. Logikanya, kalau memang mau cek kehamilan ya mengapa harus jauh-jauh ke dokter segala? Kan bisa tinggal beli testpack di apotek dan cek sendiri di kamar mandi. Apalagi Rara masih SMP dan pacarnya itu masih SMA. Kalau bayar dokter untuk sekedar cek hamil atau nggak kan jadinya mahal.

Oh ya, saya harus jujur mengatakan kalau saya salut dengan peran Jajang C. Noer di film ini. Sebagai aktris senior yang sangat berpengalaman, kelembutan saat memerankan dr. Kartini yang sangat membela kaum perempuan sudah sangat pas. Terkadang ia juga bisa bertingkah lucu seperti saat bertemu dengan Bagas, pacarnya dr. Rohana. 😀

Happy Salma yang berperan sebagai seorang pelacur pun mampu mendalami perannya sebagai wanita agresif dengan kepribadian humoris. Pembawan karakternya yang sering berkata spontan dan buka-bukaan mampu membuat saya tertawa sekaligus terpana. Bukan hanya jokes yang ia lontarkan, tetapi saat melakukan dialog yang meledak-ledak pun emosinya tersampaikan dengan baik kepada penonton.

Para pemain yang memerankan Rohana, Lili, Ningsih, dan Lastri pun sudah bagus. Sayangnya untuk pemeran Rara yang masih muda masih kurang ‘ngena’ saat akting muntah karena morning sickness. Tapi, kalau ditanya siapa tokoh yang jadi favorit saya, jawabannya adalah Ratna. Intan Kieflie yang memerankan Ratna sangat totalitas, terutama saat ia sedang marah. Sama sekali tidak dibuat-buat, layaknya saya sedang menonton kemarahan wanita yang benar-benar kecewa terhadap seseorang. Tadinya saya tidak menyangka bahwa ia juga sebagai produser di sini. Tapi menurut saya perannya lebih baik daripada Jajang C. Noer atau Marcella Zalianty meski dia juga sebagai produser.

Film ini sungguh menyajikan hal yang sangat menggugah hati saya. Apalagi ada twist di akhir film yang benar-benar tidak saya sangka dan makin membuat saya terbelalak. Kejutan besar yang sangat jauh dari ekspektasi. Saya rasa tak ada penonton yang mengira hal itu bisa terjadi.

Kalau dari hikmah ceritanya sendiri, meski para wanita di film ini digambarkan sebagai korban dari kaum lelaki, tetapi ini juga menandakan bahwa wanita itu hebat bisa melewati dan menanggung semua beban itu meski sendirian. Wanita memang tidak seharusnya diperlakukan secara tidak adil karena wanita punya hati dan cinta yang harus dihargai oleh siapa pun.

OVERALL RATING
★★★★☆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s